Argonal Diskusi Pengembangan Pertanian Rakyat Memperkokoh Kedaulatan Bangsa

0
Diskusi terbatas DPP Argonal mengangkat tema “Pengembangan Pertanian Rakyat Memperkokoh Kedaulatan Bangsa".

Jakarta, Agriculturenews.id – Diskusi terbatas DPP Argonal mengangkat tema “Pengembangan Pertanian Rakyat Memperkokoh Kedaulatan Bangsa”, yang berlangsung di kantor DPP Argonal, Jln. Wisma Jaya, No.08 Rawamangun, Jakarta Timur.

Dalam sambutannya Ketua Umum DPP Argona HM. Djonharro, mengatakan bahwa, Argonal adalah organisasi kemasyarakatan yang memiliki komitmen kerakyatan dan basis pengabdian yang jelas kepada rakyat, oleh karena itu Agronal sebelum menerjunkan program pertanian.

“Sengaja untuk  forum kajian di awal, dan alhamduillah diskusi ini dapat terlaksana. Tentu hasil diskusi, yang kami harapkan segera terwujud program pertanian yang nyata. Kami  sedang menyiapkan lokasi untuk pengembangan program tersebut di beberapa daerah dan di awali dari kabupaten Sukabumi,” apih yang biasa disapa Bang John ini, Jakarta, Rabu (14/8/19).

Hadir dalam acara tersebut sebagai pembicara tunggal adalah Ketua Umum Pimpinan Pusat (Pimpus) KUP Suta Nusantara Dadung Hari Setyo, yang sebelumnya telah didaulat sebagai Dewan Pakar di Argonal. Dalam kesempatan tersebut ia memaparkan bahwa pembangunan pertanian Indonesia sebenarnya sudah maju, akan tetapi negara lain lebih cepat kemajuannya dibanding Indonesia.

Kemajuan-kemajuan dunia pertanian di negara lain, kata lelaki yang biasa disapa Masda ini, dapat dilihat seperti di Filipina dan Thailand, di mana tingkat kemajuannya lebih cepat dibanding Indonesia. “Hal yang sama juga dapat dilihat di Vietnam, negara yang tergolong baru merdeka tapi kita kalah cepat membangun pertanianya,” ungkat Masda.

Problem yang tampak terlihat menurutnya, adalah pertama, banyak kebijakan pertanian yang masih membelenggu inovasi dan kreativitas di bidang pertanian. Contoh kasus, persoalan benih padi di Aceh dan benih jagung di Kediri beberapa tahun silan.

“Tentu kalau kita teliti secara detail, akan ketahuan kok kebijakan atau peraturan ini dibuat oleh siapa dan siapa yang diuntungkan dan dirugikan. Buka hal yang tabu, untuk melonggarkan dan menyenpitkan kebijakan itu pasti ada yang pesan,” terang Masda.

Kedua, lebih lanjut ia uraikan, moralitas pelaku usaha pertanian. Banyak kasus gagal  panen yang disebabkan kesalahan  speksifikasi benih atau bibit, pupuk dan alat serta mesin pertanian. Selain itu dilapangan dalam struktur tana niaga usaha pertanian, petani berada pada lapisan terbawah yang memiliki risiko usaha yang paling berat tapi keuntungannya paling kecil di banding lapisan di atasnya seperti tengkulak, pengempul dan pedagang  dan pengusaha.

“Apa lagi petani saat ini sulit permodalannya, Kredit Usaha Rakya di mata petani hanya halusinasi saja. Karena kredit usaha rakyat harus menyertakan jaminan,” bebernya.

Yang ke tiga, adalah penelitian dan pengembangan. Banyak hasil penelitian yang tidak tersosialisasi di masyarakat. Hal inilah hanya bisa meniru tapi kurang berinovasi. Sedah selayaknyalah hasil penelitian diekspos, disosialisasikan dan diterapkan. Penelitian ini akan banyak membantu pembangunan pertanian di masyatakat.

“Karena itu, fungsi perguruan tinggi dalam hal penelitian harus difasilitasi, jangan sampai para ahli atau peneliti tersebut biaya pendidikannya dari Indonesia tapi bekerjanya  membangun negara orang lain,” ampuhnya.

Diakhir paparanya Masda mengharapkan bahwa pembangunan pertanian butuh solusi cepat, maka revolusi mental  harus segera dijalankan di pertanian,  yakni menjadi petani harus dari panggilan jiwa,  status petani harus ada standarisasi pendidikan dan pelatian, petani harus punya kompetensi dan keuanggulan khusus.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here