Menyambut Kebangkitan Vanili Indonesia, ‘Sang Primadona’ Baru

0
Nurcahyo Eko Junaidi (Ketua Perkumpulan Petani Vanili Indonesia, Salatiga)

“PPVI (Perkumpulan Petani Vanili Indonesia) berusaha dengan daya dan kemampuan serta semua yang ada melalui upaya kegiatan untuk mewujudkan, mengembangkan atau membudidayakan tanaman vanili di Indonesia dalam rangka memajukan pembangunan pertanian dan perkebunan di Indonesia, dalam menumbuh kembangkan serta meningkatkan kualitas dan kuantitas petani vanili di seluruh Indonesia serta mempererat hubungan kerjasama petani vanili di seluruh Indonesia dan petani vanili di luar negeri.”

Agriculturenews.id. Indonesia pernah menjadi penghasil vanili terbaik dan terbesar di dunia, bukan mimpi karena itu pernah terjadi. Dan Indonesia juga pernah memasuki masa suram di dunia vanili karena banyak faktor. Sebagaimana kita ketahui bahwa sejak 2010 vanili mulai jadi primadona lagi.

Saat ini vanili merupakan hasil pertanian termahal ke dua di dunia setelah bunga shaprone, sedangkan kebutuhan vanili dunia dari tahun ke tahun terus meningkat sementara pasokan masih datar–datar saja dan cenderung stagnan. Sebagai gambaran, kebutuhan vanili dunia tahun 2018 mencapai 12.000 ton kering / tahun dengan berbagai kualitas, sedangkan pasokan vanili dari negara-negara penghasil vanili hanya memenuhi setengahnya, sekitar 6.000 ton/tahun dengan berbagai kualitas (FAO, 2018).

Melihat animo masyarakat petani Indonesia yang begitu besar, tidak menutup kemungkinan produksi Indonesia akan mengalahkan negara Madagascar beberapa tahun ke depan, karena produksi Madagascar cenderung stagnan di angka 3.000 ton /tahun. Namun apa yang akan terjadi jika produksi Indonesia mulai naik mengalahkan Madagascar dan produksi berlimpah? Apakah harga akan tetap seperti sekarang? Atau akan hancur lagi seperti era tahun awal 2000an?

Mari kita kilas balik di masa masa vanili harganya terjun bebas sehingga membuat petani Indonesia kecewa dan memusnahkan perkebunan vanilinya atau membiarkan menjadi hutan kebunnya. Pada tahun menjelang 2000an vanili dunia jatuh pada harga terendah, sekitar U$ 35 /kg dan sampai di Indonesia harga di tingkat petani sampai mencapai Rp. 10.000/kg bahkan ada yang sampai Rp. 5.000/kg. Ada apa sehingga harga vanili bisa mencapai titik terendah di Indonesia?

Ada beberapa faktor yang menyebabkan, di antaranya; Pertama, ditemukannya formula vanili sintetis, sehingga perusahaan-perusahaan serta pengguna-pengguna vanili alami beralih ke produk sintetis. Hal ini disebabkan mahalnya harga vanili sehingga membuat para pelaku mencari alternatif lain sebagai pengganti vanili. Kedua, Indonesia sebagai negara terbesar penghasil vanili saat itu, namun tak dibarengin dengan langkah-langkah menjaga mutu serta kualitas. Indonesia berubah menjadi raja panen muda, Indonesia menjadi negara satu-satunya yang melakukan kecurangan dengan memasukkan benda-benda pemberat pada vanili olah (paku, kawat, pasir dan air raksa). Hal ini yang menyebabkan vanili Indonesia di banned (dilarang) beredar di pasar dunia.

Setidaknya kedua hal tersebut secara garis besar yang menyebabkan harga vanili dunia merosot pada era awal tahun 2000an. Lalu mengapa sekarang harga bisa naik lagi? Terkadang pertanyaan ini menjadi pertanyaan yang berkepanjangan bagi seorang petani sehingga rasa trauma untuk berkebun vanili lagi menjadi hantu yang menakutkan.

Ada beberapa hal juga yang menyebabkan harga melambung tinggi seperti sekarang sehingga menempatkan vanili merupakan produk pertanian termahal ke 2 di dunia, diantaranya; 1. Sejak tahun 2010, WHO sebagai badan kesehatan dunia mulai melarang penggunakan vanili sintetis, sehingga perusahaan-perusahaan pengguna vanili mulai lagi mencari vanili alami lagi; 2. Trauma petani akan harga yang anjlok menyebabkan petani jarang yang bertahan untuk tetap berkebun vanili, sehingga ketersediaan vanili mulai langka; 3. Kegunaan serta manfaat vanili sintetis tak sebaik vanili alami tak bisa digantikan, hal ini juga yang menyebabkan kebutuhan akan vanili dunia terus bertambah.

Lalu apa yang akan terjadi jika Indonesia berlimpah panen vanili? Apakah harga tak akan jatuh dan terpuruk lagi? Jawabannya ada di diri kita masing-masing. Apakah kita mau harga jatuh? Atau kita mau harga tetap baik dan bisa kontrol harga vanili setidaknya tidak merugikan petani. Semuanya kembali dengan apa yang kita lakukan saat ini. Jika kita melakukan kesalahan-kesalahan terdahulu, wajar jika harga akan jatuh dan vanili Indonesia sering disebut “poor vanilla”. Jika kita melakukan kecurangan-kecurangan terdahulu, tak salah jika suatu saat vanili kita tak diterima dunia lagi.

Mari kita belajar, mari kita berkomitmen dan mari kita bersatu menjaga komoditas kita untuk anak cucu!

Oleh: Nurcahyo Eko Junaidi (Ketua Perkumpulan Petani Vanili Indonesia, Salatiga)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here