Tanaman Vanili, ‘Sang Primadona’ Ini Akan Dikembangkan di NTT

0

Jakarta, Agriculturenews.id – Nama vanili memang tak asing lagi di telinga masyarakat, kerap digunakan dalam berbagai pembuatan makanan dan minuman. Sama seperti asparagus, para petani dan pengembang usaha pertanian kerap menyebut vanili sebagai tanaman “emas hijau”.

Tanaman yang satu ini memiliki nilai jual tinggi. Makin baik kualitas tanaman vanili maka harga jualnya semakin tinggi. Sehingga tak heran jika peluang usaha budidaya vanili sangat menjanjikan. Selain juga pangsa pasar masih terbuka lebar dan harganya menggiurkan. Kompetitor dalam budidaya vanili ini memang masih minim sehingga bisnis ini menaraik untuk dijalankan.

Di dunia, vanili Indonesia diakui paling berkualitas dan bahkan mengalahkan negara muasal vanili, yaitu Perneli atau Panili, Meksiko. Dilintasi garis khatulistiwa dengan garis edar matahari yang begitu dekat membuat vanili Indonesia digandrungi dunia.

Bahkan, masyarakat Eropa punya julukan khusus untuk vanili Indonesia, ‘Java Vanilla Beans’. Diartikan secara harafiah, berarti ‘polong vanili Jawa’, meski tak semua vanili Indonesia berasal dari Pulau Jawa, namun sejak tahun 2010 diakui bahwa tanaman ini menjadi ‘primadona’ baru.

Inilah beberapa hal yang menggoda KUP Suta Nusantara untuk melakukan pengembangan usaha vanili. Selain serai wangi, rencananya ‘sang primadona’ ini akan dikembangkan di Kawasan Timur Indonesia, yaitu provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Ketua Umum KUP Suta Nusantara, Dadung Hari Setyo mengatakan, saat ini sedang melakukan pendataan bagaimana peluang dan potensi budi daya komoditi tersebut di NTT. Menurut informasi yang ia peroleh, yang bersumber dari koresponden yang melakukan bisnis komoditi vanili, baik di dalam maupun luar negeri, menyebutkan bahwa kualitas vanili NTT itu sangat bagus.

“Dibanding dengan daerah-daerah yang lain, walaupun petaninya harus diberikan pelatihan dan keahlian, khusus tentang budi daya dan pemprosesan vanili ini, NTT masih dinilai unggul,” ungkap yang biasa disapa Masda ini, di Jakarta, Kamis (8/8/19).

Untuk itu, kata Masda, untuk membentuk menciptakan keahlian dan profesionalitas tersebut, Suta Nusantara menggandeng tenaga ahli salah satunya adalah Nur Cahyo. Ia juga merupakan salah satu anggota KUP Suta. Ahli ini, akan melakukan supervise pengembangan usaha vanili ini di NTT.

“Tetap kita pakai pola standarisasi dalam proses pembibitan atau benihnya, yaitu pakai metode kulture jaringan, dan standar pengembangan budi dayanya. Sehingga ini benar-benar menjadi usaha yang ‘primadona’ di NTT,” terang Masda.

Lebih lanjut Masda mengemukakan, untuk mengeksekusi program pengembangan ini Pimpus KUP Suta sedang mempersiapkan Satuan Kerja (Satker) Pengembangan Usaha Vanili. Satker ini juga akan diisi oleh orang-orang yang berpengalaman di komoditi vanili dan akan dibekali skill dan kemampuan baik dalam pembibitan, budi daya, dan proses produksinya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here