Saat Bawang Merah Jadi Penguat Devisa Namun Mencekik Petani

0

Jakarta, Agriculturenews.id – Berdasarkan keterangan yang dikemukakan Kementerian Pertanian, bawang merah merupakan salah satu komoditas sayuran unggulan yang sejak lama telah diusahakan oleh petani secara intensif. Komoditas sayuran ini termasuk ke dalam kelompok rempah tidak bersubstitusi yang berfungsi sebagai bumbu penyedap makanan serta bahan obat tradisional.

Direktur Jenderal (Dirjen) Hortikultura Kementerian Pertanian (Kementan), Spudnik Sujono, menyatakan membaiknya produksi dan harga bawang merah berdampak positif terhadap perekonomian nasional. Sebab, komoditas tersebut kini turut menjadi salah satu faktor deflasi pada Agustus 2017, setelah sekian lama “dituduh” penyebab inflasi nasional.

Menurutnya, capaian tersebut pun berdampak positif terhadap petani. Mereka sekarang berlomba-lomba mencoba peruntungannya untuk tanam bawang merah. Apalagi, pemerintah melalui Kementan sudah menutup keran impor semenjak 2016 hingga kini dalam rangka membangkitkan gairah petani serta menekan biaya produksi.

Bawang merah kini tidak cuma tersohor di Brebes dan Cirebon, melainkan juga di Enrekang Sulawesi Selatan, Solok Sumatera Barat, Tapin Kalimantan Tengah, Demak Jawa Tengah, Nganjuk Jawa Timur, Bima Nusa Tenggara Barat, dan sebagainya. Sehingga, daerah-daerah yang awalnya sangat tergantung dengan pasokan di Pulau Jawa, perlahan mandiri.

Untuk mensiasati berlimpahnya produksi dan menekan tidak jatuhnya harga bawang merah lokal, pemerintah melakukan penderasan ekspor ke negara lain, seperti halnya yang terjadi pada Ahad (4/8).  Sebanyak 165 ton bawang merah Probolinggo dilepas menuju negara Thailand.

Total nilai ekspor bawang merah ke Thailand kali ini sebesar 5,8 juta dolar AS. Sedangkan sepanjang 2017 hingga 2018, volume ekspor bawang merah Indonesia mencapai 12 ribu ton. Melonjak drastis dari tahun sebelumnya. Dalam catatan Ditjend Hortikultura, nilai ekspor bawang merah tahun 2016 senilai 57,9 ribu dolar AS; tahun 2017 ada 4.7 juta dolar AS; dan 2018 hampir 3.9 juta dolar AS.

Namun di tengah kejayaan dan kebangkitan kembali bawang merah nasional tersebut, tidak memberi dampak berarti bagi para petani yang menguli tiap hari di sawah dan ladang, demi mencukupi kebutuhan bawang nasional dan devisa negara. Beberapa persoalan yang dihadapi para petani adalah perkara logistik dan distribusi. Yaitu, bagaimana menyimpan saat tidak memproduksi dan mendistribusikan saat tengah memproduksi.

Selain itu, persoalan lain yang dihadapi petani adalah pembelian dengan sistem borongan, kontrak kerja yang terlalu singkat, dan masalah pemasaran, yang menyebabkan harga jual bawang merah belum sesuai dengan keinginan petani. Hal ini sebagai mana yang dialami oleh Ali Yubi, petani bawang merah di Nganjuk, Jawa Timur.

Menurut Ali, pasca panen saat ini harga masih belum berpihak baik bagi petani, dimana harga jual bawang merah di petani saat ini hanya berkisar Rp5000-Rp7000/ kg, itupun harga yang diberikan pemborong. Sedangkan pemborong saat peroses pembeliaan barang hasil borong di pasar diterima dengan harga 10-14 ribu /kg.

“Tergantung grade. Dan belum termasuk biaya lain-lainnya. Sehingga, saat panen tiba, petani bukannya girang, malah terasa mencekik. Hal itu disebbakan karena selain harganya yang tidak menjamin kembalinya modal usaha, malah dihantui pinjaman modal usaha,” terang Ali kepada Agriculturenews.id saat dihubungi melalui pesan singkat, Jakarta, Kamis (8/8/19).

Ali melanjutkan, sehingga dari itu, pemborongpun masih belum begitu berani untuk bermain spekulasi harga. Jika saat ini harga untuk petani minimal Rp10.000 / kg, di lahan itu petani sudah cukup menerima dan masih senang, apa lagi jika harga di atas 10 ribu. Karena bagi petani, jika harga di atas 10 ribu atau setandar 10 ribu, kemungkinan sudah cukup buat mengganti biaya operasional selama pemberdayaan tanaman.

“Dampak turunnya harga ini dikarenakan tahun ini di berbagai wilayah alami panen secara bersamaan, dan kemungkinan sampai dengan akhir bulan September panen bawang merah tidak akan putus,” ungkap petani yang juga anggota KUP Suta Nusantara ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here