Tingkatkan Produktivitas Kentang, SUTA Siapkan Konsep Pengembangan Dari Hulu ke Hilir

0
Dadung Hari Setyo, Ketua Umum KUP SUTA Nusantara, dan Prof. Khudori. Saat dilokasi pembibitan kentang di Garut.

Jakarta, Agriculturenews.id – Kentang tumbuh di lebih dari 100 negara, tanaman ini dapat tumbuh dalam kondisi tanah sedang, subtropis dan tropis. Tanaman satu ini sangat dibutuhkan manusia karena ia dapat menghasilkan umbi sebagai komoditas sayuran dan berpotensi untuk dipasarkan di dalam maupun luar negeri.

Tanaman kentang merupakan salah satu tanaman penunjang program diversifikasi pangan untuk memenuhi kebutuhan gizi masyarakat. Sebab, sebagai bahan makanan, kandungan nutrisinya dinilai cukup baik, yaitu mengandung protein berkualitas tinggi, asam amino esensial, mineral, dan elemen-elemen mikro, di samping juga sumber vitamin C, B, mineral P,Mag dan K.

Kandungan karbohidratnya yang tinggi menyebabkan umbi kentang dikenal sebagai bahan pangan pengganti beras, gandum, dan jagung. Sayangnya, produktivitas tanaman kentang di Indonesia saat ini relatif masih rendah dan tidak stabil. Data BPS 2017 menunjukkan, Indonesia hanya mampu memproduksi 1,16 juta ton, walaupun mengalami kenaikan 2% yaitu 1,18 juta ton tahun 2018.

Akan tetapi setiap tahun bangsa ini masih rutin mengimpor, terutama kentang jenis atlantik yang diperuntukkan untuk industri makanan. Namun menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman, beralasan, bahwa impor kentang Indonesia masih terbilang kecil jika dibandingkan dengan produksi di dalam negeri yang mencapai 1,2 juta ton setahun. Menurut datanya, impor kentang hanya 29.000 ton per tahun.

“Impor kentang hanya 29.000 ton di 2016, itu kecil sekali. Ada ahli benih, nanti saya siapkan (bantu pembenihan kentang),” jelas Amran (27/12/2016), seperti dilansir dari Detik.com. Walaupun ia akui, impor kentang selama ini lebih banyak untuk bahan baku industri, yakni kentang varietas atlantik yang dipakai untuk keripik kentang dan french fries (kentang goreng).

Siap Kembangkan Usaha Kentang Dari Hulu ke Hilir

Kebutuhan konsumsi kentang dalam negeri dinilai terus meningkat, baik kentang untuk konsumsi pangan maupun untuk produk olahannya. Dari tahun ke tahun, luas areal dan produksi serta produktivitas kentang di Indonesia juga selalu berfluktuasi. Sejak 2011-2014 luas panen dan produksi cenderung meningkat, tetapi pada 2015 angkanya justru menurun.

Kepala Balai Bioteknologi Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Agung Eru Wibowo menyebutkan, selama lima tahun terakhir luas panen kentang berkisar antara 59.882–76.291 hektare dengan produksi sebesar 955.488-1.347.815 ton. Berdasarkan data Kementerian Pertanian pada 2016, tingkat produktivitas kentang berfluktuasi antara 15,96–8,20 ton per hektare.

“Produktivitas kentang di Indonesia masih relatif rendah dibandingkan dengan produktivitas di beberapa negara Eropa seperti Belgia yang bisa mencapai rerata 44,3 ton per ha, dan Belanda 42,5 ton per ha. Produktivitas budidaya kentang yang masih rendah dan belum optimal itu merupakan tantangan utama perlu mendapat perhatian serius,” ujarnya, Jum’at (31/8) dikutip Suaramerdeka.com.

Dengan berbagai persoalan itulah, KUP SUTA Nusantara akan menyiapkan konsep implementation untuk pengembangan usaha kentang dari hulu ke hilir. Mulai dari pembenihan dengan menggunakan kulture jaringan, budidaya dan pemasaran, permodalan hingga investasi.

Menurut Ketua Umum KUP SUTA Nusantara Dadung Hari Setyo, upaya dan usaha tersebut sangat yakin dapat diimplementasikan sesegera mungkin, sebab hal itu dikarenakan adanya sistem, peralasan dan sumber daya yang professional dimiliki KUP Suta Nusantara.

“Dari segi pembenihan, kelompok usaha yang tergabung di dalam Suta Nusantara memiliki laboratorium pembenihan dengan sistem kulture jaringan. Lab ini terletak di pusat kota Garut. Setelah proses pembentuk sel jaringan di Lab, kemudian selanjutnya hasilnya akan dibawa ke pusat pembenihan di di Kampung Cilame, Desa Tambakbaya, Kecamatan Cisurupan, Kabupaten Garut,” terang lelaki yang biasa disapa Masda ini, Jakarta, Rabu (7/8/19).

Laboratorium ini merupakan laboratorium kultur jaringan yang dimiliki oleh PT HAM–CHAMP Garut. Dipimpin oleh Prof. Adnan, Pimpinan Penangung Jawab / Direksi, Prof. Khudori, pakar kentang Indonesia, dan Asri, sekretaris perusahaan.

Di pusat pembenihan tersebut, sel jaringan kentang kemudian dilakukan penangkaran, mulai dari proses pengembangan kulture jaringan, desaminasi bibit hingga akhirnya menghasilkan bibit Generasi Awal (G0) dan juga bibit Sebar (BR).

Masda menjelaskan, saat ini kelompok usaha yang tergabung dalam KUP Suta baru memiliki luas budi daya perklaster masing-masing 5 ha. Dan akan terus bertambah, dengan model pengembangan yang tersebar di beberapa daerah di Indonesia, baik di Jawa maupun di luar Jawa, seperti di Indonesia Timur.

“Terdapat 20 player yang waktu tanggangnya berbeda. Nanti akan diatur, setiap minggu tanam. Sehingga ke depan panennyapun setiap minggu,” beber Masda.

Selain itu, untuk pola permodalannya ada sistem konvensional dan syariah. Tergantung petani plasma mintalnya akan memilih yang mana. “Ketang yang dikembangkan saat ini sementara dua jenis, yakni kentang sayur dan kentang chip untuk keripik. Karena pasar, dua jenis kentang ini banyak peninatnya,” tutupnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here