Kembalikan Kejayaan Rempah Nusantara, KUP Suta Nusantara Akan Kembangkan Usaha Rempah Terpadu

0
Ketua Umum KUP Suta Nusantara Dadung Hari Setyo saat penandatanganan Kerja Sama Serai Wangi di Subang. Dok. acn.id.

Jakarta, Agriculturenews.id – Sebagai salah satu negara penghasil rempah terbesar di dunia, nama Indonesia sudah tidak diragukan lagi. Selain seni dan budaya, Indonesia memiliki kekayaan alam rempah-rempah yang sangat beragam. Inilah yang menarik perhatian bangsa Portugis datang menjajah, yaitu demi menguasai rempah-rempah yang saat itu ditemukan di Maluku.

Sepanjang abad ke-16 dan 17, bangsa Portugis dan Spanyol memperebutkan penguasaan tanah rempah-rempah di Maluku. Disusul oleh Belanda di abad ke-17. Rempah merupakan barang dagang utama dan berharga saat itu. Bayangkan saja, harga jual cengkeh hampir sama dengan harga emas batangan. Komoditi utama perdagangan, antara lain, cengkeh, pala, kayu manis, lada, dan jahe.

Namun kebesaran rempah-rempah nusantara tersebut, saat ini tinggal jadi kenangan masa lalu. Sebab, menurut Ketua Umum Komunitas Usaha Pertanian (KUP) Sentra Usaha Tani dan Agribisnis (Suta) Nusantara Dadung Hari Setyo, pengusaha pertanian dan pemerintah sendiri anggap komoditi ini tidak menjanjikan lagi. Untuk itu, menurut Dadung, komunitasnya akan mengembalikan kejayaan rempah-rempah nusantara tersebut dengan mengembangkan kembali komoditi rempah di berbagai provinsi di Indonesia.

Usaha yang dilakukannya tersebut, terang Dadung, karena didorong oleh kesadaran tentang nama besar rempah dalam sejarah dan kekayaan alam yang dimiliki Indonesia, serta banyaknya permintaan dan besarnya kebutuhan rempah-rempah yang datang dari berbagai negara-negara di dunia.

“Permintaan tentang rempah-rempah nusantara dari berbagai daerah, dalam dan luar negeri sendiri ini cukup besar, ditambah lagi kebutuhan di tingkat Asia juga besar. Terkait dengan itu, kami di Suta Nusantara coba diskusikan bersama teman-teman, bagaimana mengambil potensi atau peluang produksi rempah-rempah,” jelas Dadung, Jakarta, Selasa (30/7/19).

Dadung mengatakan, korespondensi dan komunikasi yang dilakukan olehnya, bahwa pasar dan dunia sangat membuthkan komoditi rempah-rempah. Khususnya pasar internasional, mereka membutuhkan rempah dalam bentuk minyak rempah-rempah, dalam bentuk cairan, dan dalam bentuk olahan baku lainnya.

“Untuk produk bahan baku, rempah-rempah ini oleh mereka akan diproduksi menjadi, minyak, kapsul dan tablet. Sedangkan rempah setengah jadi, akan mereka olah menjadi produk herbal. Memang saat ini, kebutuhan herbal dan tablet meningkat, namun produksi kita masih kurang. Oleh karena itu kami di nusantara mencoba mendalami kebutuhan rempah-rempah nasional,” Ujar Dadung.

Sentra Rempah-Rempah Terpadu Indonesia

Lebih lanjut Dadung terangkan, langkah pertama yang dilakukan adalah visiting atau meninjau lokasi. Yaitu lahan daerah mana yang cocok untuk jenis komoditi tertentu untuk dikembangkan. Sehingga di setiap daerah memiliki beragam komoditi rempah-rempah. Langkah ini secara bertahap telah dilakukan oleh komunitasnya, yang saat ini mulai melakukan pengembangan.

“Dalam proses pengembangan tersebut, walaupun kami punya laboratorium sendiri untuk pengembangan produksi rempah-rempah, tetapi saat ini juga kami sedang kembangkan sentra usaha rempah-rempah secara terpadu di beberapa tempat. Seperti di Jawa Timur, Malang, dan juga beberapa daerah di Jawa Barat, seperti Subang,” Ungkapnya.

Menurutnya, pihak Suta Nusantara sudah banyak Identifikasikan beberapa provinsi dan kabupaten untuk menjadi pusat pengembangan pertanian rempah-rempah ini di Indonesia. Seperti di Kalimantan Barat akan dikembangkan potensi lada hitam dan lada putih. Daerah ini sekarang penghasil dua komoditi lada terbaik; Kemudian di Banten akan dikembangkan gula aren, jahe, kunyit dan pinang; di Bengkulu juga jadi pusat pengembangan gula aren dan pinang.

Selain itu, di NTB akan jadi pusat pengembangan pinang, kunyit, temulawak, asam jawa. Sebab di daerah ini menurut Dadung, tumbuh bagai rerumputan, memenuhi pegunungan, namun tidak dikelola. Begitu juga di NTT dikembangkan kelor, sirih daun, dan pinang; kemudian di Sumatra Selatan dikembangkan pinang, jahe, dan kunyit; Jawa Barat dikembangkan sirih daun, jahe, kelor, serai wangi, serai dapur, kopulaga; Sulawesi Tengah akan dikembangkan minyak cengkeh, kopulaga, minyak kopra; Maluku Utara akan dikembangkan kopra, kemiri dan kayu manis;

“Terkait dengan itu kami sedang konsolidasikan pengembangan usaha-usaha ini untuk menjadi satu sentra pertanian terpadu. Seperti yang sebelumnya telah kami kembangkan yaitu sentra pengembangan usaha serai wangi di Subang. Sementara rempah-rempah untuk langkah pertama kita pusatkan di Malang, Ogan Komerin Ulu (OKU), Ogan Komerin Ilir (OKI), dan NTT. Berbagai rempah-rempah ada di situ, tahun ini harus terwujud sentra pengembangan usaha rempah-rempah di NTT,” terangnya.

Setiap provinsi, ungkap Dadung, nantinya akan ada sentra pengembangan rempah-rempah, mulai dari pembibitannya, budidayanya, pemeliharaannya dan perawatannya, sampai pada produksi dan perdagangannya. Disamping juga akan melakukan pengemasan dan packingnya. Sehingga ini menjadi peluang yang besar buat masyarakat yang selama ini, rempah-rempah dipandang sebelah mata.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here