Pembenahan Revolusi Pertanian Dilihat Dari 3 Aspek

0
Ilustrasi TRevolusi Pertanian (Istimewa)

JAKARTA, agriculturenews.com – Indonesia perlu melakukan revolusi pertanian, terkait dengan regenerasi Sumber Daya Manusia yang saat ini kurang diminati oleh kaum Milenial atau generasi muda, menandakan menjadi seorang petani bukanlah suatu cita-cita Primadona yang patut dipilih.

Terkait akan revolusi Pertanian ada tiga aspek yang harus dilihat menurut Ketua Umum SUTA Nusantara, Dadung Harisetyo, demi mencapai revolusi pertanian.

“Potensi revolusi pertanian menurut kami ada beberapa hal yang harus dibenahi untuk menghasilkan output dan outcome,” ujarnya, kepada redaksi agriculturenews.com, melalui sambungan telepon.

Dia menekankan, ada tiga aspek yang harus dilakukan revolusi, antara lain :

Pertama, kebijakan pertanian saat ini masih banyak kebijakan yang overlapping diantara sektor lain. Begitu juga pada posisi over logging yang tentunya masih tumpang tindih di berbagai sektor.

“Kebijakan seharusnya merujuk pada kebijakan itu sendiri. Revolusi pertanian seharusnya menjadi kebutuhan dasar. Karena itu revolusi pertanian dalam konstitusi negara harus dipertegas, Juga harus mengambil dasar dalam UUD 45 yang diterjemahkan dalam semacam garis besar kebijakan untuk mengimplementasikan revolusi pertanian dengan perencanaan yang matang,” paparnya.

“Bicara kebijakan, tidak hanya bicara kebijakan saja. Tetapi integrasi dengan kebijakan yang lain seperti dalam perdagangan, perindustrian, pangan, logistik, usaha kecil dan menengah ini harus diatur secara komprehensif, integrated dan saling mendukung sehingga kebijakan untuk membangun revolusi pertanian tercapai,” tambahnya.

Kedua, revolusi pertanian terhadap pelaku usaha yang dilihat dari level petani dari korporat, strukturnya kurang harmonis sehingga banyak tumpang tindih. Sehingga banyak persoalan yang tidak selesai dalam penataan di bidang oertanian.

“Kalau kita lihat petani dari struktur industri berada paling bawah sehingga petani banyak mendapat tekanan dan resiko yang paling berat dibanding tengkulak, perusahaan, perbankan dan sebgaainya. Sehingga, petani lama kelamaan untuk SDM pertanian akan selalu berkurang. Yang ada SDM saat ini usianya 50 ke atas, untuk generasi muda sangat sedikit sekali dalam bidang pertanian,” ungkapnya.

Untuk poin ketiga, pria yang akrab dipanggil Masda, ini menjelaskan revolusi pertanian dalam riset dan development. Di mana peran kampus, lembaga riset harus dibiayai, difasilitasi sarana dan prasarananya.

“Hasil riset ini nantinya bisa menjadi format atau pola yang bisa diterapkan sehingga kemajuan demi kemajuan bisa diwujudkan,” pungkasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here